Capres Perang Argumen-Ekonomi Tak Pengaruh

Menjelang Pemilu Pemilihan Presiden banyak kalangan memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan  terganggu. Apalagi suasana selama masa kampanye  tidak kondusif. Kondisi demokrasi ditanah air semakin memanas. Masing-masing Capres dan Cawapres saling adu argumen dan saling fitnah. Hal inipun disebabkan oleh terlibatnya orang nomor satu dan nomor dua atau pihak yang berpengaruh di Indonesia. Keterlibatan mereka dalam Pemilihan Presiden  menyebabkan segalanya menjadi tidak terkendali, karena sedikit banyak mereka mengabaikan masalah kenegaraan yang urgen. Dikepala mereka saat ini hanya dipenuhi oleh sesuatu mendesak  saja, yaitu menang pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden  yang akan datang. Kepentingan Negara terlupakan.

Hal ini sesuai yang disampaikan Anggota DPR RI Endin AJ.Soefihara, bila elit pemerintah hanya disibukkan dengan kepentingan mereka masing-masing, maka yang akan menjadi korban adalah bangsa dan rakyat Indonesia. Apalagi saat ini krisis ekonomi global masih membutuhkan penanganan serius dari pemerintah.

“Masalah ekonomi adalah hal urgen dinegara ini. Jadi tidak dapat diabaikan dan sambil lalu saja penanganannya. Harus ditangani secara serius. Krisis ekonomi global jangan sampai benar-benar menghancurkan ekonomi Indonesia,” tegas Endin Soefihara di Jakarta beberapa waktu lalu.

Namun kekhawatiran berbagai kalangan tersebut rupanya sedikit terobati dengan penjabaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) belum lama ini. Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Koperasi, Sandiaga S Uno, perekonomian nasional akan terus tumbuh dan tidak dalam kondisi mengkhawatirkan. Malah pasar domestik tetap bergairah, terutama di sektor usaha kecil dan menengah.

“Tidak benar bila kondisi ekonomi bangsa ini mengkhawatirkan. Malah semakin tumbuh membaik dan bergairah. Hal ini nampak pada sektor usaha kecil dan menengah. Karena mereka menggunakan rupiah. Jadi tidak terpengaruh pada krisis ekonomi global,” jelas Sandiaga S. Uno dikantornya.
Prediksinya, hingga akhir tahun 2009 pertumbuhan ekonomi nasional akan  sampai 5%. Hal ini dilihat dari kondisi kuartal pertama. Dimana pertumbuhannya sudah mencapai 4,5%. Malah Kadin optimis hingga akhir 2014 ekonomi tumbuh sekitar 9%. Bahkan bila pertumbuhannya kedepan semakin membaik, maka bisa jadi pertumbuhannya menembus dua digit.

Namun demikian Calon Wakil Presiden Partai Gerindra, Prabowo, yang berduet bersama Megawati pada Pemilihan Presiden yang akan datang mematahkan pernyataan elit Kadin tersebut. Prabowo mengatakan, pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada kinerja pemerintah. Dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan menembus dua digit  bila pola kerja yang dilakukan seperti pemerintah saat ini.

Cawapres Gerindra ini tak habis fikir, bagaimana mungkin Indonesia yang sudah merdeka hampir seratus tahun namun tetap bertahan sebagai Negara miskin, dimana pertumbuhan ekonominya masih satu digit hingga saat ini, ditambah lagi jumlah hutang luar negeri yang semakin menggunung. Setiap kali berganti orang dipemerintahan, maka semakin bertambah jumlah hutang Indonesia terhadap luar negeri.

Menurutnya, perlu kerja keras pemerintah untuk pencapaian ekonomi dua digit. Yaitu  apabila sektor keuangan Negara  benar-benar untuk memberdayakan ekonomi rakyat menengah kebawah. Alokasi dana untuk menggerakkan ekonomi lemah ini harus lebih besar jumlahnya, termasuk memberi lapangan pekerjaan seluas-luasnya kepada masyarakat, sehingga ekonomi Indonesia benar-benar bergerak dari lapisan bawah hingga atas.
Begitu pula dengan tekad untuk membayar hutang luar negeri, bukan malah menambah terus jumlah hutang tersebut. Bila  berhutang terus dilakukan, sama halnya berada dalam lingkarang setan. Tak jelas kapan berakhirnya, malah mungkin terperosok makin dalam.

“Kalaupun saat ini Negara tidak mampu untuk menyicil hutang luar negeri tersebut, maka kita dapat negosiasi. Misalnya memberikan asset Negara untuk dikelola dan dijadikan jaminan untuk diambil keuntungannya untuk melunasi hutang tersebut,” ujar Prabowo tandas.

Namun demikian Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Bambang Soesatyo, tetap yakin bahwa pertumbuhan ekonomi nasional bisa lebih tinggi dan mencapai 7% hingga akhir 2010. Bahkan pada akhir 2014 bisa mencapai  9%.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa elemen. Salah satunya adalah meningkatnya ekspor produk Indonesia ke Timteng, meski angka eksport ke Eropa dan Amerika mengalami penurunan. Meningkatnya jumlah eksport ke Timur Tengah berpotensi meningkat karena kwalitas produk yang terjaga, dan tidak adanya imbas krisis finansial seperti di Eropa dan Amerika.

Menurut Ketua Komite Tetap Kerja Sama Ekonomi Timteng dan Negara Islam Kadin Indonesia, Farchry Thaib, produk yang diminati Negara Timteng seperti kendaraan bermotor, ban, kayu olahan, furnitur, kerajinan, kertas, margarin, minyak sawit (crude palm oil/CPO), susu, dan, pelat besi.

“Nilai ekspor Indonesia ke Timteng pada 2008 berdasarkan data Kadin sebesar USD 2,5 miliar. Sedangkan kuartal I/2009 sekitar USD 500 juta. Perkiraan Kadin hingga akhir 2009 nilai eksport ke Timteng bisa naik sampai 20%,” jelasnya lagi.

Dibalik beberapa kemajuan ekonomi tersebut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Bambang Soesatyo mengakui, ekonomi nasional masih belum dapat tumbuh hingga signifikan pada kuartal I/2009 karena penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih minim sehingga sejumlah proyek di daerah belum terlaksana. Belum lagi masalah  kebijakan pemerintah soal suku bunga dan surat utang negara (SUN). Semua itu  mengakibatkan dana bank pembangunan daerah (BPD) yang seharusnya dialokasikan untuk pelaksanaan proyek masih ngendon di Bank Indonesia (BI) dan Departemen Keuangan. Ditambah lagi dengan kepastian hukum dan tumpang tindihnya kebijakan  antara pusat dengan daerah. Padahal seharusnya  pemerintah terutama Presiden dapat membuat kebijakan yang mendorong dana ‘menganggur’ di BI menjadi lebih produktif.

Bank Indonesia sebagai wadah sentral menggerakkan perekonomian Indonesia yang seharusnya menjaga segala kemungkinan terburuk dari krisis perekonomian di Indonesia, saat ini malah lebih memilih  bertarung dipolitik untuk menjadi orang nomor dua di negeri ini.

Rakyat berharap Ekonomi membaik…

Saling serang issu dan memojokkan antara tim Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) pada Pemilu Pilpres kali ini semakin  panas. Masing-masing sudah tidak peduli lagi terhadap etika dan moral berpolitik. Yang ada dikepala mereka saat ini hanyalah, bagaimana caranya menjatuhkan lawan politik, menyudutkan citra dan kredibiltas lawan ditengah masyarakat. Semua itu mereka lakukan hanya untuk meningkatkan nilai jual.

Lihat saja, bagaimana tim sukses  SBY membalas begitu banyak tuduhan dan cercaan yang dilemparkan kepada mereka. Salahsatunya tim Jusuf Kalla maupun Prabowo yang menyerang Cawapres Boediono, dengan mengatakan Boediono Neoliberal, antek asing dan sebagainya.

Padahal menurut puteri dari pahlawan Ahmad Yani sekaligus salah satu tim sukses SBY,Amelia Ahmad Yani, bahwa tuduhan neo liberal sangat tidak berdasar. Bahkan selama ini mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut  menjalankan kebijakan pemerintah yang saat itu sedang diintervensi oleh IMF.

“Jadi bukan Boediono yang IMF ataupun neo liberal, tapi Boediono sedang menjalankan kebijakan pemerintah yang sedang dikuasai oleh IMF. Jadi bukan menjalankan kebijakan asing,” tegas Amelia dikantornya, Jakarta beberapa waktu lalu.

Tapi cerita konyol itu tidak berhenti sampai disitu saja, mereka saling bersahutan dan membalas. Tim sukses SBY Rizal Mallareng pun  tersinggung saat lawan-lawan politik SBY bergantian menyerang SBY. Rizal membalas dengan menyerang Prabowo, dengan menyebut ekonomi kerakyatan yang digemborkan oleh Prabowo hanya slogan saja, karena kenyataannya selama ini Prabowo belum berjasa apapun kepada bangsa.

Namun Ruhut Sitopul, tim SBY menegaskan, sudah seharusnya sikap saling serang dan memojokkan dihentikan. Karena semua itu adalah sikap memalukan untuk dipertontonkan kepada masyarakat. Pesta demokrasi pemilihan presiden  harus berjalan secara elegan.

“Tidak perlu saling menyudutkan lawan. Apalagi bila yang diserang masalah pribadi. Bermain politik secara cantik dan santunlah. Lagi pula kompetisi kan harus dilakukan secara sehat dan ksatria,” ujar Ruhut di Jakarta.

Rentetan dagelan politik tersebut membuktikan para elit politik kita belum cerdas. Mereka seakan lupa, masyarakat negeri ini sekarang telah pandai sebagai pengamat politik. Masyarakat malah jengah dan tertawa menyaksikan prilaku kekanakkan dari elit politik.

Seandainya para tokoh negeri ini dapat segera pulih kesadarannya, sebenarnya masyarakat tidak menuntut banyak terhadap pemimpin bangsa kedepan. Rakyat hanya berharap ekonomi menjadi lebih baik. Itu saja.
Jadi tidak aneh bila akhirnya para capres dan cawapres saat ini memanfaatkan issu ekonomi untuk mengambil simpati masyarakat seluas-luasnya. Semuanya membusungkan dada, bahwa merekalah yang paling peduli dan paling mampu mewujudkan ekonomi kerakyatan dan sebagainya.

Hal inipun dijabarkan oleh Direktur Eksekutif Puskaptis  Husin Yazid. Berdasarkan survey yang dilakukan Puskaptis, ekonomi menempati nomor urut pertama  yang menjadi perhatian pemilih yaitu 49,26 persen pemilih responden. Kedua adalah penanganan korupsi yang hanya memperoleh 20,96 persen responden.

Survey Puskaptis itupun menghasilkan nama capres SBY yang paling diidolakan dan diharapkan oleh publik untuk kembali menjadi Presiden yang akan datang. SBY pada survey itu meraup 48,13 persen responden. Nama SBY jauh meninggalkan kandidat lain seperti JK dan Megawati.

Kembali pada masalah ekonomi. Sektor ini pada lima tahun terakhir, ditambah lagi hantaman krisis global memang diakui belum tercipta perubahan yang diharapkan masyarakat, apalagi ekonomi menengah kebawah. Peluang ini dimanfaatkan benar oleh kandidat cawapres Prabowo yang berduet bersama Megawati yang menggaungkan konsep ekonomi kerakyatan. Sosok ini seakan bertepuk dada bahwa dialah yang dapat merubah nasib hidup para petani, pelayan, pedagang kecil. Neo liberalisme atau kerjasama dengan pihak asing sangat jauh dari diri seorang Prabowo dan Megawati.

Padahal menurut Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy saat bicara pada diskusi di Gedung DPR-RI Jakarta, seluruh capres dan cawapres yang akan bertarung pada pemilihan presiden nanti tidak ada satupun yang memiliki konsep ekonomi kerakyatan. Ketiga pasangan tersebut sesungguhnya sama-sama  penganut ekonomi Neoliberalis. Mereka yang akan meneruskan penganut ekonomi neoliberalisme.

Lagipula perekonomian Indonesia sudah lama di-intervensi oleh kepentingan asing. Baik itu ADB, World Bank ataupun dan IMF. Ketiga pasangan kandidat itu tak dapat mengelak dari realita itu. Mereka meneriakkan ekonomi pro rakyat hanya untuk mengambil simpati public. Padahal  ketiga capres tidak bisa memberikan harapan yang cerah bagi bangsa Indonesia ke depan.

Ucapan pengamat ekonomi ini dapat dibuktikan, dengan tidak ada satupun capres dan cawapres yang membahas soal penggusuran, baik itu pedagang maupun rumah penduduk yang tinggal di pinggiran kali sampai di bawah kolong jembatan.

Tapi kali ini rakyat Indonesiapun tidak dapat berbuat apa-apa. Rakyat dipaksa  untuk memilih menu yang tidak mereka inginkan, yang akhirnya  harus mereka makan juga dengan menahan segala rasa marah, jengkel dan mual. Begitulah ibaratnya. Karena tidak adanya fiqur masadepan ideal yang bisa muncul karena berbenturan dengan aturan dan UU yang menghambat demokrasi, sehingga masyarakat mau tidak mau harus memilih salah satu pasangan kandidat yang ada.

Rakyatlah saat ini dituntut semakin cerdas. Memilih sosok yang  minimal masing berwarna abu-abu diantara semuanya yang hitam. Tapi sayangnya, kecerdasan rakyat kita pada politik belum merata. Kita hanya berharap, rakyat tidak terjebak rayuan gombal dan tipu muslihat elit negeri ini. Amin