Restoran Tradisional dan Modern

Kita semua tentu mengenal restoran-restoran cepat saji atau franchise restoran seperti Olala Café, Mc Donald, A & W, KFC, Burger King, Hoka-Hoka, Starbucks, dan lainnya. Ada juga restoran tradisional seperti Restoran Bumbu Desa, Restoran Padang Sederhana, Mbok Berek, Suharti, Soto Kudus, Pecel Madiun, Wong Kito, Ayam Bakar Wong Solo, sebagai restoran tradisional khas masakan Nusantara.

Dalam hal restoran cepat saji ini pembeli diharuskan mengantri sebelum mereka menyampaikan pesanannya dan membayar sebelum mereka bisa menikmati apa yang menjadi pilihan menu mereka, setelah inipun terkadang pembeli kesulitan untuk memilih lokasi makan karena keterbatasan tempat duduk sehingga terkadang pembeli sering pula harus berdiri sambil menikmati makanan pilhannya.

Lain halnya dengan restoran cepat saji dimana pembeli harus mebayar terlebih dahulu. Di restoran tradisional mereka bisa datang kemudian duduk-duduk terlebih dahulu sambil memilih milih menu yang telah disediakan oleh pelayan restoran. Dan setelah dirasa cukup akan pesanan makanan yang dikehendaki baru pelayan menghampiri dan akan datang membawa pesanan kemudian.

Disini pembeli bisa menikmati suasana keadaan dengan nyaman bahkan makanpun bisa terasa lebih bergairah. Setelah pembeli menikmati sejumlah makanan barulah mereka membayar sesuai dengan apa yang mereka makan. Ada keadilan disini bagi pembeli yang sering diungkapkan dalam masyarakat kita pembeli adalah raja.

Tetapi anehnya masyarakat kita cenderung memilih restoran yang menyediakan makanan cepat saji entah karena gengsi semata atau karena kebutuhan padahal mereka sering harus mengalami kekecewaan ketika membayar sejumlah uang yang menurut perkiraan mereka tidak wajar dan perlu juga diketahui bahwa lebih sehat makan di restoran tradisional dibandingkan dengan restoran cepat saji.

“Jangan malu memilih menu lokal, berbahan baku lokal, dan diolah lokal karena yang lokal-lokal justru lebih menyehatkan.  Saatnya kini menghapuskan anggapan salah bahwa yang bergizi tinggi itu harus berharga tinggi. Justru kita bisa mendapatkan yang lebih bergizi dengan harga lebih murah dari bumi sendiri, yakni menu peninggalan nenek moyang,”

Diharapkan keberadaan restoran masakan tradisional bisa melatih lidah dan selera anak-anak generasi sekarang untuk tidak selalu dibiasakan menikmati menu impor seperti burger, hotdog, steak, ayam goreng dan di sisi lain sukar menerima cita rasa lokal semacam masakan Sunda, Jogja, Palembang, Bugis, dan produk-produk lokal lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: