Rakyat berharap Ekonomi membaik…

Saling serang issu dan memojokkan antara tim Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) pada Pemilu Pilpres kali ini semakin  panas. Masing-masing sudah tidak peduli lagi terhadap etika dan moral berpolitik. Yang ada dikepala mereka saat ini hanyalah, bagaimana caranya menjatuhkan lawan politik, menyudutkan citra dan kredibiltas lawan ditengah masyarakat. Semua itu mereka lakukan hanya untuk meningkatkan nilai jual.

Lihat saja, bagaimana tim sukses  SBY membalas begitu banyak tuduhan dan cercaan yang dilemparkan kepada mereka. Salahsatunya tim Jusuf Kalla maupun Prabowo yang menyerang Cawapres Boediono, dengan mengatakan Boediono Neoliberal, antek asing dan sebagainya.

Padahal menurut puteri dari pahlawan Ahmad Yani sekaligus salah satu tim sukses SBY,Amelia Ahmad Yani, bahwa tuduhan neo liberal sangat tidak berdasar. Bahkan selama ini mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut  menjalankan kebijakan pemerintah yang saat itu sedang diintervensi oleh IMF.

“Jadi bukan Boediono yang IMF ataupun neo liberal, tapi Boediono sedang menjalankan kebijakan pemerintah yang sedang dikuasai oleh IMF. Jadi bukan menjalankan kebijakan asing,” tegas Amelia dikantornya, Jakarta beberapa waktu lalu.

Tapi cerita konyol itu tidak berhenti sampai disitu saja, mereka saling bersahutan dan membalas. Tim sukses SBY Rizal Mallareng pun  tersinggung saat lawan-lawan politik SBY bergantian menyerang SBY. Rizal membalas dengan menyerang Prabowo, dengan menyebut ekonomi kerakyatan yang digemborkan oleh Prabowo hanya slogan saja, karena kenyataannya selama ini Prabowo belum berjasa apapun kepada bangsa.

Namun Ruhut Sitopul, tim SBY menegaskan, sudah seharusnya sikap saling serang dan memojokkan dihentikan. Karena semua itu adalah sikap memalukan untuk dipertontonkan kepada masyarakat. Pesta demokrasi pemilihan presiden  harus berjalan secara elegan.

“Tidak perlu saling menyudutkan lawan. Apalagi bila yang diserang masalah pribadi. Bermain politik secara cantik dan santunlah. Lagi pula kompetisi kan harus dilakukan secara sehat dan ksatria,” ujar Ruhut di Jakarta.

Rentetan dagelan politik tersebut membuktikan para elit politik kita belum cerdas. Mereka seakan lupa, masyarakat negeri ini sekarang telah pandai sebagai pengamat politik. Masyarakat malah jengah dan tertawa menyaksikan prilaku kekanakkan dari elit politik.

Seandainya para tokoh negeri ini dapat segera pulih kesadarannya, sebenarnya masyarakat tidak menuntut banyak terhadap pemimpin bangsa kedepan. Rakyat hanya berharap ekonomi menjadi lebih baik. Itu saja.
Jadi tidak aneh bila akhirnya para capres dan cawapres saat ini memanfaatkan issu ekonomi untuk mengambil simpati masyarakat seluas-luasnya. Semuanya membusungkan dada, bahwa merekalah yang paling peduli dan paling mampu mewujudkan ekonomi kerakyatan dan sebagainya.

Hal inipun dijabarkan oleh Direktur Eksekutif Puskaptis  Husin Yazid. Berdasarkan survey yang dilakukan Puskaptis, ekonomi menempati nomor urut pertama  yang menjadi perhatian pemilih yaitu 49,26 persen pemilih responden. Kedua adalah penanganan korupsi yang hanya memperoleh 20,96 persen responden.

Survey Puskaptis itupun menghasilkan nama capres SBY yang paling diidolakan dan diharapkan oleh publik untuk kembali menjadi Presiden yang akan datang. SBY pada survey itu meraup 48,13 persen responden. Nama SBY jauh meninggalkan kandidat lain seperti JK dan Megawati.

Kembali pada masalah ekonomi. Sektor ini pada lima tahun terakhir, ditambah lagi hantaman krisis global memang diakui belum tercipta perubahan yang diharapkan masyarakat, apalagi ekonomi menengah kebawah. Peluang ini dimanfaatkan benar oleh kandidat cawapres Prabowo yang berduet bersama Megawati yang menggaungkan konsep ekonomi kerakyatan. Sosok ini seakan bertepuk dada bahwa dialah yang dapat merubah nasib hidup para petani, pelayan, pedagang kecil. Neo liberalisme atau kerjasama dengan pihak asing sangat jauh dari diri seorang Prabowo dan Megawati.

Padahal menurut Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy saat bicara pada diskusi di Gedung DPR-RI Jakarta, seluruh capres dan cawapres yang akan bertarung pada pemilihan presiden nanti tidak ada satupun yang memiliki konsep ekonomi kerakyatan. Ketiga pasangan tersebut sesungguhnya sama-sama  penganut ekonomi Neoliberalis. Mereka yang akan meneruskan penganut ekonomi neoliberalisme.

Lagipula perekonomian Indonesia sudah lama di-intervensi oleh kepentingan asing. Baik itu ADB, World Bank ataupun dan IMF. Ketiga pasangan kandidat itu tak dapat mengelak dari realita itu. Mereka meneriakkan ekonomi pro rakyat hanya untuk mengambil simpati public. Padahal  ketiga capres tidak bisa memberikan harapan yang cerah bagi bangsa Indonesia ke depan.

Ucapan pengamat ekonomi ini dapat dibuktikan, dengan tidak ada satupun capres dan cawapres yang membahas soal penggusuran, baik itu pedagang maupun rumah penduduk yang tinggal di pinggiran kali sampai di bawah kolong jembatan.

Tapi kali ini rakyat Indonesiapun tidak dapat berbuat apa-apa. Rakyat dipaksa  untuk memilih menu yang tidak mereka inginkan, yang akhirnya  harus mereka makan juga dengan menahan segala rasa marah, jengkel dan mual. Begitulah ibaratnya. Karena tidak adanya fiqur masadepan ideal yang bisa muncul karena berbenturan dengan aturan dan UU yang menghambat demokrasi, sehingga masyarakat mau tidak mau harus memilih salah satu pasangan kandidat yang ada.

Rakyatlah saat ini dituntut semakin cerdas. Memilih sosok yang  minimal masing berwarna abu-abu diantara semuanya yang hitam. Tapi sayangnya, kecerdasan rakyat kita pada politik belum merata. Kita hanya berharap, rakyat tidak terjebak rayuan gombal dan tipu muslihat elit negeri ini. Amin

2 Tanggapan

  1. mereka terfokus ke ekonomi, tanda pengakuan mereka terhadap jurang antara orang miskin dan orang kaya makin lebar dan makin dalam…

    • betul sekali, bahkan semua yang disampaikan hanya retorika bukan bermaksud mereduksi arti kampanye mereka tetapi saya berharap masyarakat lebih cerdas dewasa ini……terimakasih atas commentnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: